Jumat, 03 Juli 2009
cinta sejati
Menemukan cinta sejati tidak
semudah membalik telapak tangan, perlu pemikiran dan kondisi yang ideal untuk
menentukan bahwa seseorang adalah cinta sejati Anda. Namun ada tips yang dapat
membantu menemukan cinta sejati. Ini dia!
1. Jangan mencarinya. Cinta tidak
datang pada seseorang yang mencarinya. Jika memang Anda baru saja mengakhiri
suatu hubungan, fokuslah pada diri dan kehidupan pribadi terlebih dahulu. Tidak
perlu terburu-buru mencari cinta yang baru, dan nikmati kesendirian Anda.
2. Beri waktu untuk diri sendiri.
Temukan aura positif Anda. Jika perasaan puas terhadap diri muncul, maka secara
otomatis aura positif itu akan terpancar. Dan orang di sekitar pun akan
melihatnya. Itulah daya tarik bagi diri Anda.
3. Jika sudah siap untuk membuka
lembaran baru bagi hubungan, maka mulailah memilih karakter pasangan seperti
apa yang diidamkan. Tak hanya dari segi fisik namun juga mental dan
kepribadian.4. Bergaul dan hang out. Hal itu
akan membuka kesempatan bagi Anda untuk bertemu orang baru. Siapa tahu salah
satu di antara mereka adalah cinta sejati Anda.
5. Berani ambil risiko. Jika
suatu hari Anda bertemu dengan seseorang yang sesuai dengan kriteria cinta
sejati, jangan ragu untuk mengambil langkah. Mulailah perkenalan dan menjalin
hubungan. Karena kesempatan tak datang dua kali.
6. Yang paling penting, cintai
diri Anda terlebih dahulu. Hiduplah dengan bahagia dan jangan pernah melepaskan
harapan. Yakinlah, setiap orang diciptakan berpasangan. Masalahnya hanyalah
mendapatkan orang yang tepat, di waktu yang tepat.
Jumat, 19 Juni 2009
BE A MODEL
Sabtu, 13 Juni 2009
semangat sang tupai
Dalam buku Gung Ho!, Ken Blanchard - penulis One Minute manager - menyampaikan 3 rahasia untuk membuat organisasi menjadi solid.
Rahasia pertama adalah memberikan visi kepada tim bahwa apa yang dilakukan mereka sangatlah bernilai. Ini dia sebut sebagai the Spirit of the Squirrel (semangat si Tupai). Rahasia kedua adalah membuat setiap orang tahu tanggungjawabnya masing-masing dan mengemban tanggung jawab sebaik-baiknya sesuai kemampuan, dengan caranya masing-masing. (konsep ini mirip dengan apa yang disebut Jim Collins dalam buku Good to Great sebagai orang tepat yang ’self-managed’). Ken menyebutnya the Way of the Beaver (cara si Beaver).
Rahasia ke-tiga adalah budaya saling memberi semangat yang diilhami perilaku angsa-angsa. Ken menyebutnya the Gift of the Goose. Kuncinya adalah terus mempertahankan antusiasme tim dengan memberikan apresiasi kepada kelompok terhadap prestasi baik besar maupun kecil. Lebih jauh lagi konsep ini bahkan menekankan pemberian apresiasi kepada tim walaupun belum mencapai hasil. Pernahkah Anda melihat sekelompok angsa (atau bangau kalau di tempat kita) yang terbang dalam formasi V dan selalu berkaok-kaok? Ya, mereka saling berkaok-kaok untuk memberi semangat satu sama lain.
Saya kira Anda juga pernah melihat pertandingan sepakbola di mana dukungan supporter mampu meingkatkan moral pemain. Kita lihat hal yang sama saat tim bulutangkis kita main di All England, juga kita lihat di liga Softball Amerika, dan yang paling kentara adalah cheer leader di pertandingan basket NBA. Sumbangsih para supporter ini luar biasa besar bagi pemain (bayangkan apa jadinya pertandingan dengan penonton yang pasif duduk manis melihat pertandingan… ). Mereka memberi semangat terutama ketika timnya tertinggal dari lawan. Coba kalau mereka memberi semangat hanya kalau tim nya sudah menang, tentu yang terjadi justru timnya tidak menang. Berikan semangat kapan saja, baik sebelum maupun setelah prestasi tercapai.
Seringkali karena kita terlalu banyak prestasi maka kita menjadi kurang peka terhadap prestasi-prestasi kecil. Saat SMA dulu, kebetulan SMA saya (SMA 7 semarang) adalah sekolah penuh prestasi dan sering menjadi yang terbaik di berbagai bidang. Setiap kali upacara bendera hari senin, sangat sering diumumkan prestasi terbaru yang kami raih. Waktu itu saya perhatikan bahwa para siswa memberikan applaus yang meriah bila kami meraih juara 1 (terbaik). Sayangnya applaus tersebut sangat kurang bila juara 2 dan seterusnya. Saya kira hal positif dari budaya tersebut adalah dorongan untuk selalu menjadi yang terbaik (juara 1) seperti yang diterapkan Jack Welch di GE (menjadi no 1 atau no 2. kalau tidak, lebih baik tutup saja!). Tentu ini positif. Namun di sisi lain, budaya ini menunjukkan kurangnya apresiasi terhadap prestasi-prestasi kecil, yang sesungguhnya adalah awal dari munculnya prestasi-prestasi besar. Jadi, idealnya, kita selalu memberikan applaus yang meriah terhadap semua prestasi, dan spesial untuk juara terbaik kita berikan lebih meriah lagi!